ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN

ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN:
ALIRAN PERENIALISME

A.    Pendahuluan
Kondisi dunia sekarang yang sangat mengandalkan rasionalitas, dan semuanya harus dapat dibuktikan secara empiris telah mempengaruhi kebenaran, sehingga memandangnya dapat terukur, teramati dan teruji secara empiris, yang melihat realitas sebagai suatu yang serba materi, telah memunculkan berbagai masalah, sehingga mendatangkan kebingungan, kecemasan, dan ketakutan dalam bertingkah laku. Hal inilah yang membuat manusia hidupnya tidak menentu dan kehilangan arah dan jati dirinya.
Keadaan seperti di atas mengakibatkan manusia melihat realita dunia menjadi serba objektif, kebenaran ilmu berangkat dari fakta-fakta yang terverifikasi dan terukur secara baik, menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai orientasi kehidupan.
Kondisi dunia yang terganggu oleh budaya yang tak menentu, yang berada dalam
kebingungan dan kekacauan seperti yang diungkap sebelumnya, memerlukan usaha serius untuk menyelamatkan manusia dari kondisi yang mencekam dengan mencari dan menemukan orientasi dan tujuan yang jelas, dan ini adalah tugas utama filsafat pendidikan. Perenialisme dalam hal ini mengambil jalan regresif dengan mengembalikan arahnya seperti yang menjadi prinsip dasar perilaku yang dianut pada masa kuno dan abad pertengahan.[1] Untuk lebih jelasnya tentang hakikat perenialisme akan dibahas pada pembahasan selanjutnya.
B.     Hakikat Perenialisme
Perenialisme dengan kata dasarnya yaitu perenial berarti continuing throughout the whole year atau lasting for a very long time yakni abadi dan kekal yang terus ada sampai akhir.[2]
Esensi aliran ini berupaya menerapkan nilai-nilai dan norma-norma yang bersifat kekal dan abadi selalu sepanjang sejarah manusia, sehingga perenialisme dianggap sebagai suatu aliran yang ingin kembali dan mundur kepada nilai-nilai kebudayaan masa lampau.
Perenialisme secara filosofi memiliki dasar pemikiran yang melekat pada aliran filsafat klasik yang ditokohi oleh Plato, Aristoteles, Augustinus, dan Aquinas, namun menurut Sayyed Husein Nasr, filsafat perenialisme ini pertama kali digunakan oleh Augustinus dalam sebuah karyanya yang berjudul De Perennial Philosophia yang diterbitkan pada tahun 1540 M. Istilah ini menjadi lebih popular ditangan Leibnez yang digunakan dalam suratnya kepada temannya Remundo yang ditulisnya pada tahun 1715 M.[3] Perenialisme dalam bidang pendidikan ditokohi oleh Robert Maynard Hutchins, Moltimer J. Adler dan Sir Richard Livingstone.
Perenialisme memandang bahwa keadaan sekarang adalah sebagai zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kekacauan, kebingungan dan kesimpangsiuran. Aliran ini lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dari sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia saat ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio kultural. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan teruji.
C.    Dasar Folosofis Perenialisme
Perenialisme dilandasi keyakinan ontologis tentang manusia dan alam. Aliran ini memandang bahwa hakikat manusia sebagai makhluk rasional yang akan selalu sama bagi setiap manusia dimanapun dan sampai kapanpun dalam pengembangan historitasnya. Pemikiran mereka bahwa suatu kemajuan yang dialami oleh manusia di satu masa akan dapat diterapkan pada manusia lain pada masa dan tempat yang berbeda.
Menurut Plato, manusia pada hakikatnya memiliki tiga potensi dasar, yaitu nafsu, kemauan dan pikiran. Ketiga potensi ini merupakan asas bagi bangunan kepribadian dan watak manusia. Ketiga potensi ini akan tumbuh dan berkembang melalui pendidikan, sehingga ketiganya berjalan secara seimbang dan harmonis.[4]

























Aliran perenialisme berkeyakinan bahwa kendatipun dalam lingkungan dan tempat yang berbeda-beda hakikat manusia tetap menunjukkan kesamaannya. Oleh karena itu, pola dan corak pendidikan yang sama dapat diterapkan kepada siapapun dan di manapun ia berada, karena memang terlahir dari hakikat yang sama sebagai makhluk rasional. Aliran ini berpendapat, bahwa rasionalitas adalah hukum pertama yang akan tetap benar disegala waktu dan tempat.[5] Dengan adanya prinsi rasionalitas ini akan melahirkan prinsip kesadaran dan kebebasan. Kesadaran dan kebebasan adalah bukti nyata bagi fungsionalitas rasio manusia, sebab kekuatan bertindak bebas tergantung pada kekuatan berpikir, sehingga otoritas berpikir adalah satu-satunya sumber kemerdekaan. Penulis menyebutkan manusia yang bebas adalah manusia yang berpikir.
Selanjutnya tugas pendidikan adalah bagaimana menjadikan dan memajukan manusia yang ada pada suatu masyarakat, sehingga ia menjadi manusia seutuhnya, yaitu menjadi manusia yang memiliki kekuatan berpikir. Singkatnya, hakikat pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia.
Mortimer Adler sebagai salah seorang pendukung perenialisme ini mengatakan, bahwa jika seorang manusia adalah makhluk rasional yang merupakan hakikat yang senantiasa itu disepanjang sejarahnya, maka tentulah manusia memiliki gambaran yang tetap pula dalam hal program pendidikan dengan tidak mengikutkan peradaban dan masa tertentu. Sayyed Husein Nasr mengatakan bahwa karakteristik manusia tidak lain adalah rasionalitas, yang merupakan sifat manusia yang hakiki. Dengan prinsip dasar inilah, maka aliran ini berpendapat bahwa sesungguhnya ilmu pengetahuan sebagai produk dan prestasi manusia dimanapun dan kapanpun akan selalu sama, karena memang bersumber dari hakikat yang sama.
Aristoteles sebagai salah satu tokoh yang menjadi rujukan aliran ini menekankan bahwa melatih dan membiasakan diri merupakan hal yang mendasar bagi pengembangan kualitas manusia. Oleh karena itu, kesadaran disiplin perlu ditanamkan sejak dini.
D.    Implementasi Perenialisme Terhadap Pendidikan
Robert Maynard Hutchins, salah seorang tokoh perenial menyimpulkan, bahwa tugas pokok pendidikan adalah pengajaran. Pengajaran menunjukkan pengetahuan sedangkan pengetahuan itu sendiri adalah kebenaran. Kebenaran pada setiap manusia adalah sama, oleh karena itu, dimanapun dan kapanpun ia akan selalu sama.[6]
Prinsip dasar pendidikan bagi aliran perenialisme adalah membantu peserta didik menemukan dan menginternalisasikan kebenaran abadi, karena memang kebenarannya mengandung sifat universal dan tetap.[7] Kebenaran ini hanya dapat diperoleh hanya dapat diperoleh melalui latihan intelektual yang dapat menjadikan pikirannya teratur dan tersistematis sedemikian rupa. Dalam filsafat pendidikan Islam kebenaran abadi seperti ini tidak hanya didapat melalui latihan intelektual, tapi bahkan lebih penting yaitu latihan intuisi atau zauq.
Aliran perenialisme meyakini bahwa pendidikan adalah transfer ilmu pengetahuan tentang kebenaran abadi. Pengetahuan adalah sumber kebenaran, sebenarnya kebenaran selamanya memiliki kesamaan. Oleh karena itu pula maka penyelenggaraan pendidikan pun di mana-mana mestilah sama. Pendidikan mestilah mencari pola agar peserta didik dapat menyesuaikan diri bukan hanya pada kebenaran dunia saja, tetapi hendaknyalah kepada hakikat-hakikat kebenaran.
Di samping itu proses pendidikan tidak hanya transfer ilmu tetapi juga tranformasi ilmu dan internalisasi nilai. Prinsip-prinsip dasar seperti ini yang kemudian dikembangkan oleh Sayyed Husein Nasr, filosof Islam kontemporer yang mengatakan bahwa manusia memiliki fitrah yang sama yang berpangkal pada asal kejadiannya yang fitri yang berkonsekuensi pada watak kesucian dan kebaikan, sifatnya tidak akan pernah berubah karena prinsip-prinsipnya mengandung kontinuitas dalam setiap ruang dan waktu.
Perenialisme lebih cenderung pada subjek centered dalam kurikulum maupun dalam metode dan pendekatan yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Dalam kurikulum akan terlihat materi-materi yang akan mengarahkan pada kepentingan dan kebutuhan subjek didiknya dalam menumbuhkembangkan potensi berpikir, kreatif yang dimilikinya, sedangkan dalam metode pembelajaran, perenialisme mengutamakan metode yang selalu memberikan kebebasan berpikir peserta didik baik melalui metode diskusi, problem solving, penelitian dan penemuan.
Para perenialis memandang, bahwa tuntutan tertinggi dalam belajar adalah latihan dan disiplin mental. Para perenialis percaya, bahwa pemikiran subjek-subjek didik akan lebih nyata melalui pelatihan-pelatihan intelektual seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
Sifat rasional manusia yang diyakini aliran ini telah pula menjadikannya mesti menyakini kebebasan individu, sehingga kebebasan dan kemerdekaan merupakan asas yang meski dihargai dalam penyelenggaraan kependidikan supaya subjek didik terbiasa berbuat atas kehendak dan kemauan sendiri yang akan berujung pada penanaman rasa tanggung jawab.
Program pendidikan yang ideal menurut perenialisme adalah berorientasi pada potensi dasar agar kebutuhan yang ada pada setiap lapisan masyarakat dapat terpenuhi. Pandangan aliran di atas ada kesamaan dengan pendidikan Islam karena Islam mengakui adanya potensi dasar yang dimiliki manusia semenjak dilahirkan yang dikembangkan melalui proses pendidikan.
Makna hakiki dari belajar, menurut aliran ini adalah belajar untuk berpikir. Dengan cara melatih berpikir, subjek didik akan memiliki senjata ampuh untuk menghadapi berbagai rintangan yang akan menurunkan martabat kemanusiaannya. Tugas seorang subjek didik adalah mempelajari karya dalam berbagai literatur filsafat, sejarah dan sains, sehingga dengan demikian ia berkenalaan dengan berbagai prestasi di masa lalu menuju pembentukan pemikiran yang akan mengisi kehidupannya dalam meembangun prestasi-prestasinya pula.
Perenialisme membedakan belajar kepada dua wilayah besar, yaitu wilayah pengajaran dan wilayah penemuan. Yang pertama, belajar memerlukan bantuan guru. Guru dalam hal ini memberikan pengetahuan dan pencerahan keada subjek didik, baik dengan cara menunjukkan maupun menafsirkan implikasi dari pengetahuan yang diberikan. Sedangkan yang kedua, tidak lagi membutuhkan guru, karena subjek didik dalam pola ini diharapkan telah dapat belajar atas kemampuannya sendiri.
Perenialisme berpandangan bahwa meskipun substansi semua agama itu sama, tapi kehadiran substansi akan selalu dibatasi dan fungsinya terkait dengan bentuk, sehingga secara eksitorik dan operasional akan berbeda antara agama yang satu dengan agama yang lainnya. Setiap agama selalu otentik untuk zamannya meskipun secara substansial kebenarannya bersifat perenial, tidak dibatasi ruang dan waktu. Semua agama yang hadir adalah benar adanya, yang satu tidak menghapus dan menggantikan yang lain.[8] Mungkin hal inilah yang dirasa sedikit ambigu sehingga menimbulkan pluralisme agama. Seperti yang penulis baca pada makalah yang berjudul Pluralisme Agama Dalam Perspektif Kristen yang ditulis oleh Bedjo, S.E., M.DIV.[9] Disebutkan bahwa salah satu pendorong timbulnya pluralisme agama adalah aliran perenialisme. Mengutip Komarudin Hidayat, filsafat perenial adalah kepercayaan bahwa Kebenaran Mutlak (The Truth) hanyalah satu, tidak terbagi, tetapi dari Yang Satu ini memancar berbagai “kebenaran” (truths). Sederhananya, Allah itu satu, tetapi masing-masing agama meresponinya dan membahasakannya secara berbeda-beda, maka muncullah banyak agama. Hakekat dari semua agama adalah sama, hanya tampilan luarnya yang berbeda.[10]
E.     Kesimpulan
Filsafat perenialisme pada dasarnya mengkaji sesuatu yang ada dan akan selalu ada dan menawarkan pandangan alternatif agar manusia kembali pada akar-akar spiritualitas dirinya tanpa tenggelam dalam gemerlap kehidupan materi yang seringkali membuat kita silau dan menimbulkan berbagai tindakan yang tidak sesuai dengan kemanusiaan kita. Sehingga dengan kembali pada pusat spiritualitas dirinya, manusia akan memiliki pandangan dunia holistik tentang dirinya, tentang alam, dan tentang  dunianya.
Namun penulis melihat bahwa filsafat perenial memandang bahwa di dalam setiap agama ada suatu pengetahuan dan pesan keagamaan yang sama yang muncul melalui beragam nama dan dibungkus dalam berbagai bentuk dan simbol.




DAFTAR KEPUSTAKAAN

Muhmidayeli, filsafat Pendidikan Islam. Pekanbaru: LSFK2P, 2005.
Bedjo, S.E., M.Div, Makalah: Pluralisme Agama Dalam Perspektif Kristen, Surabaya, seminar pada tanggal 24 Februari 2007
Ramayulis, Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan Dan Pemikiran Para Tokohnya, Jakarta: Kalam Mulia, 2009.
Sayyed Hussein Nasr, Islam and The Perennial Philosophy, terj. Rahmani Astuti, Putut Widjanarko, Bandung: Mizan, 1993.
Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1992



[1] Muhmidayeli, filsafat Pendidikan Islam. LSFK2P, Pekanbaru, 2005, hal 174.
[2] Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1992, hal. 27.
[3] Sayyed Hussein Nasr, Islam and The Perennial Philosophy, terj. Rahmani Astuti, Putut Widjanarko, mizan, 1993
[4] Manusia yang besar potensi rasio yang besar akan manusia, kelas sosial yang tinggi. Manusia yang besar potensi kemauannya akan menjadi manusia-manusia prajurit, kelas menengah. Sedangkan manusia yang besar potensi nafsunya akan menjadi manusia-manusia pekerja, kelas rakyat jelata. Muhmidayeli, filsafat Pendidikan Islam. LSFK2P, Pekanbaru, 2005, hal. 176
[5] Ibid., h. 177
[6] Robert M. Hutchins dalam Ramayulis, Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan Dan Pemikiran Para Tokohnya, Kalam Mulia, Jakarta, 2009, hal. 26
[7] Inilah yang dimaksudkan sama dimanapun dan kapanpun.
[8] Ramayulis, Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan Dan Pemikiran Para Tokohnya, Kalam Mulia, Jakarta, 2009, hal. 28
[9] Disampaikan dalam seminar bagi guru-guru Pendidikan Agama Kristen Se-Surabaya di GKI Darmo Satelit, Surabaya pada tanggal 24 Februari 2007. Penulis ini menganut agama kristen yang melayani sebagai dosen mata kuliah etika dan filsafat agama di Departemen Mata Kuliah Umum (DMU) serta Kepala Pusat Kerohanian (Campus Ministry) di Universitas Kristen Petra, Surabaya.

No comments:

Post a Comment

Please jangan Komentar spam, karena sudah dipermudah untuk berkomentar

 

Popular Posts